![]() |
surat jiwa 1 |
Akhir akhir ini kurasakan tembok yang membentang begitu
tinggi, tak mampu jiwaku memanjat. Baru satu langkah kuterjatuh. Kesenanganku
sat mendengar manjamu dari telingan besi yang kupasang di telingaku, bisiknya
mampu menggaung hingga ujung mataku melihat tikungan di hati. Sungguh kerinduan
bagai jerat jala sang nelayan memenjara ikan tangkapannya. Andai kapal yang
membawaku pergi, dia kembali menjemputku atau aku yang berenang menyebrang
tanpa kapal dan dayung. Hanya kerinduan yang mampu jadi pelampung yang
mengapungkan jiwaku dalam raga yang tenggelam. Karam tertindih karang. Namun
jiwaku puas walau hanya melihat seberkas senyuman lalu kupergi.
Copyright ©2014. Surat Jiwa
Twitter
Facebook
Flickr
RSS
0 comments: (+add yours?)
Post a Comment