![]() |
Surat Jiwa 3 |
Pagi tadi kudengar bisikan daun dalam gemercik air. Mengingatkan ku saat kubilang kata-kata itu padamu. Entah kenapa saat itu kata bersayap dalam hati mampu terbang keluar dari mulutku. Membuatmu tersimpul malu. Kukatakan, saat ini kata bersayap itu terus mengoceh dalam sangkar hatiku. Mulutku tertutup rapat memenjaranya. Bagai camar yang terus berceloteh di dalam jeruji besi yang dikunci sebanyak tujuh kali.
Jarakku dengan dirimu memperpanjang jarak raga dan jiwaku. Aku tak tahu jiwa itu terus bangkit meninggalkan tubuh yang tertidur di atas pembaringan tanpa kudapat rasakan sesuatu. Langit siang kan seperti malam. Malam-malam begitu panjang, tanpa kutahu sampai kapan mentari kembali membawa obor menyinari tubuh dan jiwaku yang gelap.
Ku tak butuh dokter atau psikiater tuk redakan semua gejala
yang menggerogoti umurku. Waktu membuangku jauh. Mengasingkan di ujung dunia
yag tak pernah ada ujung.
Telinga-telinga yang kau bisiki menambah tebal tembok-tembok
ratapan. Ratapan kerinduan. Itulah celoteh katakata bersayap. Yang selalu
kudengar sampai ku bosan. Belati-belati waktu telah mengiris habis kesabaran
yang telah kupupuk dan kusemai lama sebelum kupergi.
Mungkin kau akan bertanya. Kenapa tak kau bebaskan saja kata
bersayap tadi?” aku kan menjawab, “aku tak tau harus dimana kulepas. Karena
kata bersayap itu sudah terlalu lelah terbang di dalam sangkar. Dan dia mungkin
bisa mati saat kulepas dan menybrangi samudra tuk hinggap jauh disana. Di
sangkar jiwamu,”
Copyright ©2014. Surat Jiwa
Twitter
Facebook
Flickr
RSS

